Untuk melayani penerbangan di daerah terpencil, sejak tahun 2006 PT Dirgantara Indonesia (PT DI) sudah berusaha mengembangkan pesawat model baru N219. Pesawat tersebut bisa mengangkut 19 Penumpang.
Bekerja sama dengan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), PT DI melakukan ujicoba aerodinamika terhadap model pesawat N-219 pada tahun 2008. Pada uji coba tersebut, diketahui bahwa pesawat tersebut bisa lepas landas dan mendarat (take off dan landing) pada landasan yang pendek.

Kemampuan take off dan landing pada landasan pendek sangat diperlukan untuk penerbangan perintis. “Banyak daerah terpencil di Indonesia yang tak memiliki lahan luas. Seperti pulau-pulau kecil, di sana tidak mungkin membangun bandara besar,” kata Andi Alisjahbana, Direktur Aerostruktur PT DI.
Belajar dari kegagalan pesawat CN 250, pihak PT DI akan membuat pesawat berdasarkan order. “Kita akan buat 25 unit dulu nantinya. Kami akan mengupayakan seluruhnya terjual dahulu,” kata Andi.
Andi pun menjelaskan, spesifikasi pesawat N219 dibuat menyesuaikan dengan kondisi geografis Indonesia. Selain itu, pesawat ini juga didesain agar bisa mengangkut bahan bakar tambahan karena tidak semua daerah punya tempat pengisian bahan bakar.
Beberapa daerah di Indonesia sudah siap untuk membeli pesawat ini seperti di wilayah Papua dan Sumatera. Rencananya pesawat ini juga akan dipasarkan ke luar negeri, utamanya Negara-negara di Afrika.



